TOKYO, KEiKO — Grup vokal dan tari pria asal Jepang, Number_i, tampil memukau dalam program musik TV TBS, CDTV Live! Live! pada 13 Juli 2026 dengan membawakan lagu terbaru mereka, “BUGS LIFE” untuk pertama kalinya. Panggung penampilan tersebut mengusung visual digital bertema “bug” (kesalahan sistem komputer) dengan permainan sorot laser dan seni teks (ASCII art). Namun, sorotan utama penonton tertuju pada detail gerakan tarian penuh canda (playful) yang diselipkan di sepanjang pertunjukan.
Kemampuan menyisipkan unsur humor secara halus di tengah pertunjukan tari yang keren menjadi salah satu identitas ekspresi khas yang membedakan Number_i dengan grup musik lainnya.
Semua dimulai pada bagian pembuka lagu (intro). Saat ketiga personel berbaris menyamping sebelum berputar menghadap penonton, Yuta Jinguji sengaja menghadap ke arah belakang yang kemudian dengan sigap diputar kembali ke depan oleh Sho Hirano. Pada gerakan berikutnya, Yuta Kishi dan Hirano secara bergantian melakukan gerakan tangan yang berbeda dari dua rekan lainnya. Detail kejanggalan koreografi tersebut sukses memicu rasa penasaran penonton sebelum lantunan vokal dimulai.
Pada bagian transisi tengah lagu (interlude), Yuta Kishi melakukan gerakan unik menangkap serangga terbang sebagai representasi tema lagu “bug” (serangga). Menariknya, segera setelah gerakan komikal tersebut, ketiga personel langsung menyajikan tarian bertenaga dengan sinkronisasi tinggi yang mengencangkan kembali atmosfer pertunjukan. Dinamika kontras antara komedi dan keseriusan ini menjadi daya tarik utama dari pementasan lagu “BUGS LIFE“. Penyelipan unsur komedi yang pas mencegah lagu menjadi terlalu bernuansa pop ceria, melainkan justru memberikan ruang napas yang membuat bagian tarian agresif terasa semakin menonjol.
Komitmen Number_i untuk tidak membatasi karya mereka hanya pada konsep keren saja juga dapat ditemukan pada karya-karya sebelumnya. Pada lagu “BON” yang memadukan unsur tradisional Jepang dengan musik hiphop, Yuta Jinguji menyisipkan koreografi layaknya meluncurkan kembang api di tengah lagu, sementara video musiknya menyajikan konsep pertunjukan boneka dan teater kertas yang unik. Begitu pula pada video musik debut “GOAT“, di mana lukisan seekor kambing (plesetan dari istilah GOAT) dipajang di dinding ruang tari sebagai kejutan kecil bagi penonton.
Pola presentasi serupa juga diterapkan dalam struktur konser musik mereka. Di sela-sela penampilan konser yang memukau, mereka kerap menyisipkan video komedi pendek yang memicu tawa penonton. Pada konser gabungan artis TOBE bertajuk to HEROes ~TOBE 3rd Super Live~ yang digelar pada April dan Mei lalu, mereka muncul di panggung dengan mengendarai sepeda yang sama dengan video musik “3XL“. Penonton yang mengira mereka akan langsung menyanyikan lagu “3XL” dikejutkan oleh adegan teatrikal penembakan yang menjadi pembuka transisi untuk masuk ke lagu “2OMBIE“. Kejutan teatrikal berdurasi singkat ini membuktikan keahlian penyusunan narasi konser yang kuat.
Secara umum, sutradara pertunjukan mungkin akan cenderung membuang unsur humor demi menjaga konsep artistik yang bergaya (stylish). Namun, Number_i secara cerdas mampu mempertahankan esensi artistik karyanya sambil tetap menyelipkan kejutan jenaka yang tidak merusak keindahan penampilan. Keseimbangan ini melahirkan karya-karya yang memiliki kedalaman makna unik. Penggabungan selaras antara dua kutub yang bertolak belakang ini membuat karya Number_i selalu memicu rasa penasaran penonton untuk menyaksikannya berulang kali demi menemukan detail pesan tersembunyi lainnya.






