Jumat, 7 Agustus 2026
KEiKO
Entertainment

Pengaruh Kecintaan Hayao Miyazaki pada Karya Sastra terhadap Film Studio Ghibli

27 Juli 2026

Pengaruh Kecintaan Hayao Miyazaki pada Karya Sastra terhadap Film Studio Ghibli
Film “Kiki’s Delivery Service” karya Studio Ghibli merupakan adaptasi dari buku karya Eiko Kadono, tetapi Miyazaki menambahkan karakter seperti pelukis Ursula dan alur cerita tentang kehilangan sihir dan inspirasi. | © 1989 EIKO KADONO / HAYAO MIYAZAKI / STUDIO GHIBLI

TOKYO, KEiKO — Studio Ghibli dikenal secara global lewat film-film animasi yang unik dan menyentuh. Meski kemampuan bercerita Hayao Miyazaki tidak perlu diragukan lagi — terbukti dari karyanya seperti My Neighbor Totoro dan Princess Mononoke yang dibuat dari nol serta manga Nausicaä of the Valley of the Wind yang ditulisnya — lebih dari separuh karya animasi yang diadaptasi oleh studio tersebut memiliki hubungan erat dengan karya sastra.

Film terbaru Studio Ghibli yang memenangkan piala Oscar kedua, The Boy and the Heron, mengambil tema dari novel tahun 1937 karya Genzaburo Yoshino berjudul Kimi-tachi wa Dō Ikiru ka (How Do You Live?), yang sekaligus menjadi judul asli bahasa Jepang untuk film tersebut. Penerbit Penguin Books mencatat novel ini sebagai inspirasi utama film, yang memberikan gambaran mengenai pengaruh sastra dan moral dalam karya-karya Miyazaki.

Alih-alih menyajikan penceritaan ulang secara harfiah, adaptasi buku oleh Studio Ghibli sering kali mengusung pendekatan transformatif.

Film pemenang Oscar Spirited Away, yang genap berusia 25 tahun pada 20 Juli, sebagian terinspirasi dari novel karya Sachiko Kashiwaba berjudul The Village Beyond the Mist (Kirifuru Mukou no Miki no Machi). Dalam novel tersebut, seorang anak perempuan bernama Lina menemukan desa ajaib setelah mengikuti petunjuk ayahnya. Karena setiap orang di desa tersebut diwajibkan bekerja untuk bertahan hidup, Lina membantu di berbagai toko dan memetik pelajaran hidup melalui serangkaian peristiwa.

Spirited Away diawali dengan premis awal yang serupa — seorang anak perempuan kota yang manja belajar bekerja keras di desa ajaib di bawah perintah pengawas yang tegas — namun Miyazaki merombak alur cerita secara signifikan dan menambahkan karakter baru seperti Kamaji, pekerja ruang boiler bertangan banyak, serta No-Face, roh kesepian yang dikuasai ketamakan.

Miyazaki kerap memasukkan gagasan filosofis yang dianggapnya penting ke dalam cerita yang sudah ada. Dalam Spirited Away, ia menambahkan alur narasi yang tidak ada di buku aslinya untuk mengkritik masyarakat konsumerisme dan kerusakan lingkungan.

Film Studio Ghibli lainnya, Kiki’s Delivery Service, diadaptasi dari buku pertama karya Eiko Kadono dalam seri enam buku. Buku keduanya yang berjudul Kiki and the New Magic akan terbit dalam terjemahan bahasa Inggris pada bulan depan.

Meskipun tetap mempertahankan karakter Kiki yang terinspirasi dari putri Kadono, Miyazaki merombak alur ceritanya secara signifikan dengan menambahkan konflik emosional saat Kiki kehilangan kekuatan sihirnya. Ia juga memperkenalkan karakter pelukis muda Ursula, yang membantu sang penyihir muda menemukan kembali kepercayaan diri untuk membangkitkan sihirnya.

“Studio Ghibli terkenal dengan jangkauan pengaruh sastranya yang luas, baik karya sastra Jepang maupun Barat, yang seluruhnya direka ulang — terkadang beberapa buku sekaligus — menjadi sesuatu yang baru dan ajaib dalam film animasi mereka,” ujar penerjemah Ginny Tapley Takemori.

Takemori menerjemahkan novel pendek karya Akiyuki Nosaka berjudul Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka), yang menginspirasi film animasi berjudul sama. Dalam catatan penerjemahnya, ia menyertakan paragraf sebelum terakhir dari versi asli yang terbit di majalah All Yomimono, yang sempat dihilangkan dari versi buku cetak.

Kutipan tersebut memberikan gambaran proses adaptasi, di mana citra visual kunang-kunang dalam novel bergema kuat pada adegan pembuka film. Deskripsi Nosaka mengenai kunang-kunang yang membentuk “satu aliran sungai yang mengalir ke bawah” menuju tulang-tulang Setsuko mengingatkan pada adegan pembuka film saat arwah kakak laki-lakinya bergabung dalam perjalanan kereta hantu sebelum alur cerita mundur ke masa lalu.

Kisah tragis novel tersebut mengenai ketidakadilan perang disajikan secara menantang dan tidak mudah diadaptasi ke media film. Keberhasilan adaptasi animasi ini menjadi bukti keahlian sutradara sekaligus penulis naskah Isao Takahata, yang merupakan salah satu pendiri Studio Ghibli.

“Seperti halnya Grave of the Fireflies, film-film Studio Ghibli sering kali menyampaikan pesan antiperang yang mendalam,” ujar Takemori.

Film Studio Ghibli Howl’s Moving Castle, yang diangkat dari novel fantasi karya Diana Wynne Jones, mempertahankan sebagian besar alur cerita dan karakter aslinya sambil menambahkan tema pasifisme melalui perubahan karakterisasi dan peristiwa penting.

Dalam beberapa kasus, Studio Ghibli mengadaptasi cerita barat dengan memindahkan lokasinya ke Jepang. Novel karya Mary Norton berjudul The Borrowers diubah menjadi The Secret World of Arrietty, menggeser latar dari Inggris tahun 1950-an ke Tokyo modern. Sementara novel karya Joan G. Robinson yang mengeksplorasi kesepian dan keluarga, When Marnie Was There, dipindahkan latarnya ke Hokkaido dengan tetap mempertahankan kedekatan dengan materi sumber. Hiromasa Yonebayashi menyutradarai kedua film tersebut, dengan Miyazaki bertindak sebagai salah satu penulis skenario pada The Secret World of Arrietty.

Kendati sebagian besar adaptasi Studio Ghibli diterima dengan baik, film Tales from Earthsea sempat mendapat kritik karena menyimpang terlalu jauh dari materi aslinya. Disutradarai oleh putra Miyazaki, Goro Miyazaki, sebagai debut film panjangnya, film ini mengadaptasi seri fantasi remaja karya penulis Amerika Serikat, Ursula K. Le Guin.

Le Guin menuliskan dalam blog pribadinya untuk penggemar di Jepang bahwa ia menganggap film tersebut sebagai karya terpisah dari seri bukunya. Ia menilai motivasi karakter dan “rasa moral dari buku” telah diubah secara mendasar, serta mengkritik hadirnya “kekerasan acak tanpa alasan” yang dianggap tidak sesuai dengan semangat karyanya.

Selama bertahun-tahun, Miyazaki telah berbicara mengenai berbagai pengaruh sastra dalam karyanya, mulai dari karya Hans Christian Andersen dan cerita rakyat Jepang hingga karya klasik Barat seperti The Odyssey karya Homer dan Gulliver’s Travels karya Jonathan Swift.

Pada 2010, dalam rangka peringatan 60 tahun seri “Iwanami Boy’s Books” dari penerbit Iwanami Shoten, Miyazaki menerbitkan daftar 50 buku favoritnya. Daftar tersebut mencakup karya klasik seperti The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry hingga karya berharga yang kurang dikenal seperti novel klasik Ceko We Were a Handful.

“Miyazaki dipengaruhi oleh buku, dan pada gilirannya ia memberikan pengaruh besar kembali ke dunia perbukuan,” ujar penerjemah novel The Village Beyond the Mist, Avery Fischer Udagawa. “Baru kemarin saya mengunjungi toko buku Kinokuniya di Bangkok yang memiliki seluruh bagian khusus untuk buku-buku yang berkaitan dengan Ghibli.”

Bagi banyak penonton, film-film Studio Ghibli dikenang karena kualitas animasi dan cara penceritaannya. Namun, menelusuri akar sastranya mengungkap dimensi lain dari proses kreatif studio tersebut — sekaligus membuka jalan bagi penggemar untuk menikmati karya novel, manga, dan cerita rakyat yang menjadi sumber keajaiban dunia animasi Ghibli.

Bagikan:
Andika Setiawan

Ditulis oleh

Andika Setiawan

Artikel Terkait