Jumat, 7 Agustus 2026
KEiKO
Travel

Survei: 6 dari 10 Warga Jepang Pakai AI Generatif untuk Rencanakan Liburan Musim Panas

14 Juli 2026

Survei: 6 dari 10 Warga Jepang Pakai AI Generatif untuk Rencanakan Liburan Musim Panas
Ilustrasi perencanaan perjalanan. Enam dari 10 warga Jepang memakai AI generatif untuk menyusun rencana liburan musim panas.

TOKYO, KEiKO — Enam dari 10 responden survei tentang liburan musim panas tahun ini mengaku menggunakan kecerdasan buatan (AI) generatif untuk menyusun rencana perjalanan.

Survei yang dilakukan Meiji Yasuda Life Insurance terhadap 1.120 orang berusia 20-an hingga 50-an pada Juni menunjukkan 61,2 persen dari mereka yang berencana bepergian di dalam maupun luar negeri merujuk pada AI generatif untuk menyusun itinerari, sekaligus mencari informasi kuliner dan transportasi lokal.

“Alat utama yang digunakan orang untuk merencanakan perjalanan dan mencari informasi saat tiba di tujuan bergeser dari buku panduan wisata ke AI generatif,” ujar perusahaan tersebut.

Saat ditanya cara menghabiskan liburan musim panas, 58,4 persen menyatakan akan bepergian, turun 6,3 poin persentase dari tahun lalu. Proporsi yang berwisata di dalam negeri 57,6 persen, naik 1 poin persentase, sementara yang berwisata ke luar negeri turun separuh dari 13,5 persen tahun lalu menjadi 6,4 persen.

Mencerminkan pelemahan yen dan inflasi belakangan ini, banyak orang memilih destinasi yang lebih dekat dan hotel yang lebih murah, menurut survei.

Lebih dari 40 persen responden menyatakan tidak berencana bepergian selama liburan musim panas.

Rata-rata anggaran yang mereka siapkan untuk rekreasi selama libur musim panas adalah 85.145 yen (sekitar 525 dollar AS), turun 18,8 persen dari tahun sebelumnya. Ini penurunan tahunan pertama sejak 2021, di masa pandemi COVID-19.

“Orang kurang antusias bepergian karena panas ekstrem dan harga yang tinggi,” kata Kazutaka Maeda, ekonom senior perusahaan itu.

Survei juga menanyakan orang tua dengan anak usia sekolah soal penggunaan AI generatif oleh anak-anak mereka. Sebanyak 38,2 persen ingin anaknya menggunakan AI generatif saat mengerjakan pekerjaan rumah libur musim panas, melampaui yang tidak menginginkannya (26,4 persen).

Pihak yang mendukung penggunaan AI meyakini rasa ingin tahu dan kemampuan menjelaskan anak akan terasah melalui proses menyusun pertanyaan untuk AI dan memperoleh jawaban. Sementara yang menentang khawatir menyalin jawaban AI dapat menggerus kemampuan berpikir anak dan menghambat penguasaan akademik.

Bagikan:
Andika Setiawan

Ditulis oleh

Andika Setiawan

Artikel Terkait