Jumat, 7 Agustus 2026
KEiKO
News

Desa Kecil di Okayama Jadi Cetak Biru Tata Kelola Hutan Berkelanjutan bagi Jepang

27 Juli 2026

Desa Kecil di Okayama Jadi Cetak Biru Tata Kelola Hutan Berkelanjutan bagi Jepang
Kenta Kawaguchi, seorang perwakilan penjualan dari A0 Group, di Mori no Gakko di Nishiawakura. AO Group memimpin inisiatif kreatif untuk melindungi sumber daya hutan sekaligus merangsang peluang bisnis. | KIMBERLY HUGHES

OKAYAMA, KEiKO — Di tengah kawasan pegunungan Desa Nishiawakura, Prefektur Okayama, sekelompok penggiat kegiatan luar ruangan mengikuti langkah pemandu wisata Futoshi Nishioka menyusuri hutan yang berbatasan dengan Prefektur Hyogo dan Tottori.

Saat mendekati persimpangan dua kawasan hutan, Nishioka menunjuk ke salah satu sisi tempat deretan pohon cedar (sugi) dan sato (hinoki) berdiri sejajar dan menjulang tinggi. Hutan buatan seperti ini mencakup sekitar 85 persen dari total wilayah hutan di desa tersebut. Angka ini mencerminkan sejarah Jepang pasca-Perang Dunia II, ketika pohon konifer ditanam secara masif di seluruh negeri untuk penghutanan kembali secara cepat sekaligus memenuhi lonjakan permintaan kayu untuk rekonstruksi nasional.

Nishioka membandingkan sifat pohon konifer yang tumbuh rapat dan menggeser spesies lain dengan gaya humor. “Anda bisa menggambarkan mereka seperti pekerja perusahaan homogen di Era Showa,” ujarnya.

Ia kemudian mengarahkan pandangan ke area di sebelahnya, yaitu Hutan Perawan Wakasugi. Hutan alami yang mencakup 15 persen sisa wilayah hutan ini diisi oleh keanekaragaman vegetasi seperti pohon ek mizunara (Quercus crispula), maple, dan kastanye kuda. Nishioka menyebut kawasan alami ini lebih mencerminkan struktur masyarakat modern yang penuh keberagaman dan kompetisi. Upaya lokal kini tengah dilakukan untuk mengembalikan keanekaragaman hayati seperti kondisi hutan liar 400 hingga 500 tahun lalu, sebelum era pembakaran arang untuk industri peleburan besi tradisional tatara.

Komitmen terhadap keanekaragaman hayati ini menjadi bagian penting yang melambungkan nama Nishiawakura. Desa berpenduduk 1.300 jiwa dengan 95 persen wilayah tertutup hutan ini kini diakui secara nasional atas inisiatif tata kelola kesehatan hutan yang menjadi model bagi daerah lain.

Pada 2004, Nishiawakura yang saat itu memiliki perekonomian terlemah di prefektur menolak bergabung dalam merger wilayah sekitarnya. Desa ini memilih meluncurkan strategi mandiri untuk pengelolaan hutan berkelanjutan dan penguatan ekonomi lokal.

Pada 2008, pemerintah desa mengumumkan Rencana 100 Tahun Kesehatan Hutan melalui tindakan terstruktur seperti penjarangan pohon sugi dan hinoki buatan. Proyek berbasis lintas generasi ini berhasil meraih sertifikasi dari Forest Stewardship Council (FSC) Japan.

Inisiatif Nishiawakura menorehkan berbagai penghargaan, termasuk penetapan sebagai Kotamadya Model Lingkungan oleh pemerintah pusat pada 2013. Pada 2019, desa ini terpilih sebagai Kota Masa Depan SDGs mendampingi kota-kota besar seperti Kobe, Kyoto, dan Yokohama. Langkah nyata yang telah diterapkan meliputi pembangkit listrik tenaga mikrohidro serta pengalihan bahan bakar pemanas pemandian air panas (onsen) dari minyak tanah ke tungku kayu bakar. Desa ini juga menerbitkan J-Credits senilai total 7.500 ton CO2 hingga November 2022 melalui proyek penyerapan karbon periode 2019–2027.

Berbagai pemangku kepentingan masyarakat membentuk konsorsium Team Nishiawakura untuk menyelaraskan tur dari hulu ke hilir sepanjang rantai kehutanan. Salah satu hasilnya adalah pembangunan kompleks Awakura Kaikan yang menampung kantor desa, perpustakaan, dan ruang komunitas.

Lembaga lain, A0 Group (dibaca “A-zero”) yang dipimpin oleh Nishioka, menggerakkan berbagai proyek kreatif untuk melindungi sumber daya hutan sekaligus mendorong peluang bisnis. Nama lembaga ini diambil dari lapisan permukaan humus organik (A0) yang melindungi kehidupan di lantai hutan.

“Proyek kami mencakup evaluasi ulang hubungan manusia dan alam, seperti pemulihan keanekaragaman hayati di lahan sawah serta pelestarian tradisi kuliner belut (unagi) lokal untuk generasi mendatang,” ujar juru bicara A0 Group, Haruno Hayashi.

“Kami juga meluncurkan proyek penggunaan sumber daya hutan berkelanjutan untuk membangun rantai pasok kayu bersertifikat FSC guna konstruksi bangunan rumah,” tambah Hayashi.

Di garis depan inisiatif lokal, lembaga Mori no Gakko (sekolah hutan) yang berdiri sejak 2009 rutin menjalankan penjarangan hutan dengan menebang sekitar 30 persen pohon sugi dan hinoki yang mati atau rusak. Langkah ini bertujuan agar sinar matahari dapat menembus lantai hutan sekaligus mencegah risiko tanah longsor. Batang kayu hasil penjarangan dipotong sepanjang 4 meter dan dijual ke pengrajin lokal seperti produsen furnitur Youbi. Separuh keuntungan penebangan dikembalikan langsung kepada pemilik lahan gunung individual.

Mori no Gakko juga mengolah dan menjual kayu penjarangan menjadi berbagai produk kreatif di kompleks Base 101%. Di lokasi ini, pengunjung dapat menemukan Hazai Market dan DIY Space yang menjual minyak aromaterapi, papan pemotong, hingga kit *hitotema* yang berisi peralatan mengukir sendok dan garpu kayu hinoki. Kompleks ini juga dilengkapi restoran yang menyajikan hidangan daging rusa dan beras organik lokal.

Pelaku usaha lain, Feuerwork, memproduksi furnitur kayu dan kerajinan besi tempa sejak 2015. Usaha ini didirikan oleh pengrajin asal Israel, Ohad Sheinwald Feuer, yang pindah ke Nishiawakura setelah tertarik dengan konsep hutan 100 tahun yang disiarkan di televisi. Feuer membagikan keahliannya melalui lokakarya tempa besi dan kerajinan kayu bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Kerja sama antarwilayah juga terjalin dengan produsen furnitur Dento di Joge, Prefektur Hiroshima, yang memanfaatkan kayu penjarangan Nishiawakura untuk membuat baki dan bingkai foto.

“Proyek ini merupakan bentuk kerajinan sirkular yang menghubungkan wilayah pegunungan di kawasan Chugoku,” ujar Presiden Dento, Toshihiko Fukumaki.

Inisiatif Nishiawakura kini direplikasi di berbagai daerah lain di Jepang, termasuk Kota Atsumi di Hokkaido dan Kinko di Prefektur Kagoshima.

Nishioka menegaskan pentingnya prioritas pengelolaan lingkungan dalam pembangunan. “Di organisasi kami, kami menerapkan piramida terbalik di mana sumber daya alam menempati urutan pertama, diikuti masyarakat, dan ekonomi di urutan paling akhir. Tidak ada bisnis yang bisa berjalan jika bumi ini rusak,” pungkas Nishioka.

Bagikan:
Andika Setiawan

Ditulis oleh

Andika Setiawan

Artikel Terkait