Kamis, 20 Agustus 2026
KEiKO
News

Gelombang Panas Ekstrem di Jepang Paksa Petani Beralih Kerja Malam Hari Demi Bertahan Hidup

Andika Setiawan | Kamis, 20 Agustus 2026 — 09.11 WIB

Gelombang Panas Ekstrem di Jepang Paksa Petani Beralih Kerja Malam Hari Demi Bertahan Hidup
Foto: (c) REUTERS / Kim Kyung-Hoon / Japan Today

TOKYO, KEiKO — Gelombang panas musim panas yang kian menyengat dan mematikan di Jepang memaksa para petani bunga, sayuran, hingga peternak unggas merombak total ritme kerja tradisional mereka menjadi nokturnal (bekerja di malam hari dan dini hari) demi melindungi tanaman, ternak, dan keselamatan jiwa dari ancaman serangan panas (heatstroke).

Di kota Nikko, sebelah utara Tokyo, petani bunga Motoaki Iijima (36 tahun) kini memanen bunga gerbera di dalam rumah kaca (greenhouse) yang benderang oleh deretan lampu halogen di tengah pekatnya malam. Suhu luar ruangan di wilayahnya kini kerap melampaui 35 derajat Celsius, yang dapat mendorong suhu di dalam rumah kaca melonjak ekstrem hingga di atas 40 derajat Celsius.

“Waktu di sekitar senja dan malam hari sangat berharga. Saat itulah kami baru bisa bekerja di luar ruangan dengan aman. Kami perlahan-lahan beralih menjadi nokturnal demi melindungi tubuh dan menyelamatkan nyawa kami,” tutur Iijima, yang memutuskan mengubah jadwal kerja setelah salah satu pekerjanya pingsan akibat sengatan panas saat memetik bunga matahari tiga musim panas silam.

Kerentanan sektor pertanian Jepang diperparah oleh faktor demografi, di mana sekitar 70 persen petani di Jepang kini telah berusia 65 tahun ke atas—kelompok usia yang sangat rentan terhadap stres termal, ditambah kelembapan udara tinggi khas musim panas Jepang. Data resmi mencatat rekor kelam pada tahun 2024, di mana 59 pekerja agrikultur tewas akibat sengatan panas ekstrem, melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding korban jiwa tahun 2021. Survei Japan Weather Association menemukan bahwa 60 persen petani usia 20 hingga 50-an tahun mengaku pernah mengalami sengatan panas atau memiliki rekan kerja yang mengalaminya, dan mayoritas telah memindahkan jam kerja ke pagi-pagi buta atau malam hari.

Dampak ekonomi dari krisis iklim ini sangat nyata. Menurut laporan kolaborasi riset iklim global Lancet Countdown, paparan panas ekstrem pada tahun 2024 menyebabkan sektor agrikultur Jepang kehilangan 926 juta jam kerja produktif. Di seluruh sektor industri, total kerugian jam kerja akibat suhu panas hampir berlipat ganda dibanding rata-rata era 1990-an, menimbulkan kerugian pendapatan nasional mencapai sekitar 46 miliar dolar AS (setara 1 persen dari total Produk Domestik Bruto Jepang).

Di sektor peternakan, peternak ayam petelur Tetsuya Usuba juga harus rutin berjaga tengah malam untuk mengoperasikan kipas angin raksasa dan menyemprotkan air pendingin ke atap kandang setelah trauma kehilangan lebih dari 500 ekor ayam petelur akibat gelombang panas mematikan beberapa tahun lalu.

Bagikan:

Artikel Terkait