TOKYO, KEiKO — Fenomena “jikka-jimai” atau proses membereskan dan melepas rumah orang tua yang ditinggalkan semakin menarik perhatian masyarakat di Jepang seiring melonjaknya jumlah rumah kosong (akiya) di berbagai daerah.
Berdasarkan Survei Perumahan dan Tanah Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang tahun 2023, jumlah rumah kosong di seluruh negeri telah mencapai 9,002 juta unit, meningkat 513.000 unit dibandingkan lima tahun sebelumnya. Rumah-rumah tersebut umumnya terbengkalai setelah orang tua meninggal dunia atau pindah ke fasilitas perawatan lansia.
Mengelola rumah kosong dari jarak jauh kerap menimbulkan beban finansial dan perselisihan sosial, mulai dari risiko kerusakan dinding, ancaman kebakaran, hingga keluhan keselamatan dari tetangga sekitar. Di sisi lain, biaya pembongkaran bangunan (demolition) sering kali mencapai jutaan yen, sementara nilai jual kembali di pedesaan tergolong rendah.
Pakar penataan aset keluarga menyarankan agar setiap keluarga mendiskusikan rencana pengelolaan rumah bersama orang tua selagi mereka masih hidup guna menghindari sengketa antar-ahli waris di kemudian hari.




