TOKYO, KEiKO — Pemerintah Jepang gencar membentuk kerangka dialog kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bersama negara-negara mitra strategis dan kawasan Global South. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada dominasi perusahaan teknologi besar asal Amerika Serikat dan China, sekaligus mendorong ekspansi perusahaan domestik ke pasar global.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memperluas kolaborasi internasional di bidang teknologi AI tepercaya (trusted AI). Kolaborasi ini mencakup pengembangan model bahasa besar (large language model) berbasis budaya lokal serta penguatan infrastruktur komputasi.
Jepang telah memulai pembicaraan intensif dengan negara-negara seperti India, anggota ASEAN, serta negara-negara Uni Eropa. Kerja sama ini berfokus pada penyusunan standar etika penggunaan AI, keamanan data, dan tata kelola teknologi yang transparan.
Melalui kemitraan ini, pemerintah Jepang bermaksud mempromosikan produk serta solusi AI buatan pengembang lokal agar mampu bersaing di tingkat global. Pemerintah juga ingin memastikan kedaulatan data nasional tetap terjaga dari dominasi monopoli teknologi luar negeri.
Penguatan kemitraan AI internasional ini diproyeksikan membuka peluang investasi baru bagi industri teknologi Jepang sekaligus memperkokoh posisi Tokyo dalam perumusan regulasi AI global.




