MORIOKA, KEiKO — Seorang penyintas perang berusia 89 tahun asal Oshu, Prefektur Iwate, Yoriko Miyazaki, membagikan kesaksian pilu mengenai takdir ayahnya yang gugur pasca-berakhirnya Perang Dunia II di kawasan Manchuria, timur laut Tiongkok.
Miyazaki menghabiskan masa kecilnya di Manchuria pada era 1940-an menyusul ayahnya, Masashi, yang bertugas sebagai perwira polisi. Pada tahun 1944, Miyazaki dipulangkan ke Jepang lebih dulu untuk bersekolah, sementara ayah, ibu, dan kedua adiknya tertahan di wilayah tersebut saat perang berakhir.
Ibunya, Chiyo, berhasil dipulangkan ke Jepang pada tahun 1946 setelah melewati masa-masa kelam yang penuh kekerasan dan ancaman di pengungsian. Namun, kabar mengenai keberadaan sang ayah baru terungkap sepuluh tahun kemudian melalui sepucuk surat yang mengabarkan bahwa Masashi telah tewas ditembak pada Desember 1946.
“Sangat berbahaya jika kita memandang perang hanya dari sudut pandang untung dan rugi. Setiap korban memiliki kehidupannya masing-masing, dan perang selalu meninggalkan bayang-bayang luka yang tak pernah benar-benar hilang,” ujar Miyazaki menyampaikan pesan perdamaian bagi generasi muda dunia.




