Sabtu, 8 Agustus 2026
KEiKO
News

Mitsubishi Electric Siapkan Tiga Fasilitas Produksi untuk Proyek Jet Tempur Bersama GCAP

Andika Setiawan | Sabtu, 8 Agustus 2026

Mitsubishi Electric Siapkan Tiga Fasilitas Produksi untuk Proyek Jet Tempur Bersama GCAP
Kenichiro Fujimoto

TOKYO, KEiKO — Mitsubishi Electric Corp. berencana membangun tiga fasilitas baru untuk memproduksi sistem elektronik jet tempur canggih yang dikembangkan bersama oleh Jepang, Inggris, dan Italia. Proyek tersebut diperkirakan mulai menyumbang keuntungan bagi perusahaan pada akhir dekade ini.

Perusahaan asal Jepang tersebut merupakan peserta kunci dalam program jet tempur Global Combat Air Programme (GCAP) yang menargetkan pengoperasian pesawat tempur garis depan pada 2035. Rencana pembangunan fasilitas ini menjadi penanda bahwa proyek tersebut mulai melangkah dari kesepakatan antarpemerintah dan desain awal menuju tahap pembangunan industri.

Chief Financial Officer Mitsubishi Electric, Kenichiro Fujimoto, menyatakan bahwa proyek ini berpotensi memberikan kontribusi pendapatan pada tahun fiskal 2029 atau 2030. Perusahaan juga akan menerima kompensasi atas pengerjaan prototipe dan pengerahan personel.

Program GCAP dipimpin oleh Mitsubishi Heavy Industries Ltd. dari Jepang, BAE Systems PLC dari Inggris, dan Leonardo dari Italia. Kanada telah bergabung sebagai pengamat, sementara Jerman dan Arab Saudi terus didiskusikan sebagai calon mitra tambahan. Kendati demikian, pejabat proyek menegaskan bahwa kehadiran mitra baru tidak boleh menunda target peluncuran pada 2035.

Produsen radar dan rudal asal Jepang ini menargetkan peningkatan penjualan bisnis pertahanan tahunan lebih dari 50 persen menjadi 690 miliar yen (sekitar Rp70,3 triliun) pada Maret 2031.

Mitsubishi Electric memperkirakan ekspor akan menyumbang porsi signifikan dalam pertumbuhan tersebut. Selain proyek GCAP, ekspor mencakup peralatan untuk kapal perang kelas Mogami yang dipasok Jepang ke Australia, serta komponen rudal udara-ke-udara AIM-120 AMRAAM buatan perusahaan pertahanan Amerika Serikat, RTX Corp.

Langkah penguatan industri pertahanan dalam negeri ini didukung kebijakan Pemerintah Jepang yang melonggarkan pembatasan ekspor senjata sejak April lalu. Penurunan stok rudal AS akibat konflik di Timur Tengah dan bantuan ke Ukraina juga dinilai membuka peluang bagi produsen senjata Jepang untuk mengisi kembali persenjataan Washington.

Bagikan:

Artikel Terkait