TOKYO, KEiKO — Tingkat swasembada pangan berdasarkan asupan kalori di Jepang anjlok ke rekor terendah sebesar 37 persen pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Data Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang menunjukkan penurunan ini menjadi yang pertama dalam lima tahun terakhir.
Angka 37 persen tersebut menyamai rekor terendah sejak data sejenis mulai dicatat pada 1965. Lonjakan harga beras yang selama ini dipasok dari dalam negeri memicu penurunan konsumsi secara keseluruhan, sekaligus meningkatkan pangsa impor pangan.
Tingkat swasembada pangan mengukur proporsi konsumsi pangan domestik yang diproduksi oleh petani atau produsen dalam negeri. Angka terendah 37 persen sebelumnya pernah terjadi pada tahun fiskal 1993 akibat kegagalan panen beras, serta pada tahun fiskal 2018 dan 2020.
Penurunan ini berlawanan dengan target Pemerintah Jepang yang mencanangkan tingkat swasembada pangan mencapai 45 persen pada tahun fiskal 2030. Setelah bertahan di angka 38 persen selama empat tahun berturut-turut, rasio tersebut kini justru turun 1 poin persentase.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian Jepang, tingkat swasembada pangan negara tersebut tergolong rendah baik dari sisi kalori maupun nilai produksi jika dibandingkan dengan negara lain seperti Australia dan Kanada yang melampaui 100 persen.
Berdasarkan bobot komoditas utama, tingkat swasembada beras turun 2 poin dari tahun sebelumnya menjadi 95 persen, yang merupakan level terendah dalam 16 tahun. Swasembada gandum dan daging masing-masing bertahan di angka 16 persen dan 53 persen, sementara hasil laut naik menjadi 53 persen dan sayuran turun ke 77 persen.
Meskipun demikian, tingkat swasembada berdasarkan nilai produksi naik 2 poin menjadi 66 persen. Kenaikan nilai produksi ini didorong oleh tingginya harga beras dan produk pangan domestik lainnya seperti telur ayam.
Kementerian Pertanian juga merilis data swasembada pangan per prefektur untuk tahun fiskal 2024. Berdasarkan kalori, Hokkaido menempati posisi teratas selama delapan tahun berturut-turut dengan tingkat swasembada 227 persen, diikuti Akita 221 persen, dan Yamagata 147 persen. Sementara itu, tingkat swasembada pangan di Tokyo berada di angka 0 persen dan Prefektur Osaka sebesar 1 persen.




