TOKYO, KEiKO — Kenaikan suku bunga membuat bunga pinjaman beasiswa untuk mahasiswa di Jepang ikut meningkat.
Bunga yang lebih tinggi berpotensi menambah saldo cicilan sebagian orang hingga lebih dari 1 juta yen (sekitar 6.160 dollar AS). Kondisi ini bersamaan dengan inflasi dan kenaikan biaya kuliah, sehingga memunculkan kekhawatiran atas rencana masa depan seperti pernikahan dan tabungan.
Pada tahun fiskal 2024 yang berakhir Maret lalu, 51,1 persen mahasiswa kelas reguler di Jepang menerima beasiswa berbentuk pinjaman dari Japan Student Services Organization (JASSO) dan perusahaan. Angka ini naik dari sekitar 20 persen pada akhir 1990-an, dan bertahan di kisaran 50 persen sejak tahun fiskal 2010.
Seorang karyawan berusia 32 tahun di Prefektur Chiba mulai mencicil beasiswa senilai 2,5 juta yen dari JASSO sejak 10 tahun lalu. Saldo pinjamannya kini masih 1,5 juta yen.
Ia menempuh langkah pengurangan dan penundaan pembayaran karena pendapatannya tidak stabil, sebagian akibat pandemi COVID-19 yang memaksanya berpindah kerja dari industri pariwisata.
“Saya tidak menyangka melunasinya akan sesulit ini,” ujarnya. “Saya merasa bersalah ketika menganggapnya sebagai utang.”
Beasiswa yang diterima perempuan itu bebas bunga, tetapi sebagian beasiswa bisa berbunga tergantung kondisi keuangan keluarga dan nilai akademik pemohon.
Suku bunga tahunan program beasiswa bunga tetap JASSO tercatat 0,07 persen untuk lulusan tahun fiskal 2019, tetapi naik menjadi 2,423 persen untuk lulusan tahun fiskal 2025. Bagi mahasiswa yang mencicil 4,8 juta yen selama 20 tahun setelah menerima 100.000 yen beasiswa per bulan selama empat tahun, selisih bunganya mencapai sekitar 1,28 juta yen.
Mahasiswa sulit memperkirakan besaran cicilan saat meminjam, karena suku bunga baru ditetapkan pada saat kelulusan.




