TOKYO, KEiKO — Surplus neraca pembayaran berjalan (current account surplus) Jepang pada semester pertama tahun 2026 melonjak 22,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai 17,43 triliun yen (sekitar 110 miliar dolar AS).
Berdasarkan data awal yang dirilis Kementerian Keuangan Jepang pada 10 Agustus 2026, lonjakan neraca perdagangan internasional ini didorong oleh berbaliknya neraca perdagangan barang menjadi surplus.
Neraca perdagangan barang tercatat meraih surplus sebesar 742,1 miliar yen, berbalik dari posisi defisit 1,46 triliun yen pada semester pertama tahun 2025. Nilai ekspor nasional tumbuh 12,8 persen menjadi 59,19 triliun yen didorong oleh kuatnya permintaan global untuk produk otomotif dan peralatan elektronik semikonduktor, sementara nilai impor naik 8,4 persen menjadi 58,45 triliun yen.
Penerimaan pendapatan primer (primary income) — yang mencerminkan hasil investasi luar negeri Jepang — naik tipis 0,3 persen menjadi 20,49 triliun yen.
Sementara itu, defisit neraca jasa membengkak 15,4 persen menjadi 1,82 triliun yen akibat penurunan surplus sektor pariwisata.
Meskipun capaian akumulatif semester pertama terbilang solid, Jepang mencatatkan defisit neraca pembayaran bulanan sebesar 92,3 miliar yen pada bulan Juni 2026. Defisit bulanan ini menjadi yang pertama dalam 17 bulan terakhir yang dipicu oleh penurunan sementara surplus pendapatan investasi luar negeri pada bulan tersebut.




